Merdekapost.co.id – Peringatan Hari Bidan Internasional 2026 bukan sekadar seremoni tahunan bagi tenaga kesehatan. Di Kabupaten Sumenep, Madura, momentum ini menjadi pengingat akan besarnya peran bidan sebagai garda terdepan dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi, terutama di wilayah kepulauan yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan.
Di tengah tantangan geografis yang tidak sederhana, para bidan hadir lebih dari sekadar tenaga medis. Mereka menjadi sahabat bagi ibu hamil, pendamping saat persalinan, hingga pemberi edukasi kesehatan bagi keluarga di pelosok desa dan pulau-pulau terpencil.
Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, dr. Erliyati menilai, keberadaan bidan memiliki kontribusi besar dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi di daerah.
“Bidan menjadi salah satu elemen penting dalam menekan angka kematian ibu dan bayi. Mereka hadir langsung di tengah masyarakat dan berperan sejak awal proses kehamilan sampai masa nifas,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Menurut dr. Erliyati, profesi bidan tidak hanya identik dengan proses persalinan. Lebih dari itu, para bidan juga berperan dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan yang humanis dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dalam banyak kasus, bidan menjadi sosok pertama yang ditemui ibu hamil ketika membutuhkan bantuan kesehatan. Tidak sedikit pula bidan yang harus menempuh perjalanan jauh demi memastikan kondisi ibu dan bayi tetap aman, khususnya di wilayah kepulauan Sumenep.
“Peran bidan bukan hanya tindakan medis, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat agar lebih siap menghadapi kehamilan dan persalinan dengan aman,” katanya.
Kabupaten Sumenep sendiri dikenal memiliki wilayah kepulauan yang cukup luas dengan tantangan akses layanan kesehatan yang masih terbatas di beberapa daerah. Kondisi itu membuat peran bidan semakin vital karena sering kali menjadi satu-satunya tenaga kesehatan yang dapat dijangkau masyarakat.
Menurut dr. Erliyati, tantangan pelayanan kesehatan ibu dan anak ke depan akan semakin kompleks. Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kebidanan serta pemerataan distribusi tenaga bidan harus menjadi perhatian bersama.
“Di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan, bidan sering menjadi ujung tombak pelayanan. Karena itu penguatan kapasitas dan pemerataan tenaga bidan sangat penting,” ungkapnya.
Ia menambahkan, peningkatan kompetensi tenaga bidan tidak bisa dilakukan sendiri oleh fasilitas kesehatan, melainkan membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.
“Ke depan perlu ada upaya bersama untuk meningkatkan kompetensi serta distribusi tenaga bidan agar pelayanan kesehatan ibu dan anak semakin optimal,” tegasnya.
Hari Bidan Internasional 2026 pun menjadi refleksi bahwa keberhasilan menurunkan angka kematian ibu dan bayi tidak lepas dari dedikasi para bidan yang bekerja langsung di lapangan, sering kali dalam keterbatasan, namun tetap mengutamakan keselamatan pasien.
“Keselamatan ibu dan bayi sangat bergantung pada peran besar para bidan,” pungkas dr. Erliyati.(*)
Penulis : Zainury
Editor : Redaksi






